Sabtu, 12 Oktober 2013

Belajar dari (hidup) orang lain

Saya mau cerita dan berbagi begitu pentingnya kita belajar dari hidup org lain. Terkadang melihat kehidupan org lain itu seperti kaca, yg merefleksi kan dia ke diri kita, berkaca kembali seperti apa kita. Dengan seperti itu kita sadar bahwa kita manusia adalah makhluk yang jauh dari kesempurnaan.

Pada mulanya ~ adik saya bercerita mengenai salah satu teman di kelasnya, yang ternyata mengidap penyakit Hepatitis A. Seorang anak perempuan berumur 16 thn, diketahui hepatitis A baru-baru saja, berawal sejak kaki nya mengalami cidera ligamen. Setelahnya barulah diketahui dia mengidap Hepatitis A. Semakin hari semakin berlalu, mata nya kian lama kian menguning, begitu juga dengan badan nya yang semakin kurus.

Beberapa minggu ini dia sudah tidak masuk sekolah, mungkin keadaanya makin memburuk. Tidak banyak yang tau keadaannya, karena semuanya menjauh darinya, karena kabarnya penyakit ini menular. Dia anak 16 tahun tidak punya teman bermain, teman-teman nya menghidar karena takut tertular. Pernahkah kita membayangkan dan merasakan apa yang dirasakan anak tersebut? pernahkah kita merasakan bagaimana rasanya terkucilkan?

Bayangkan seorang anak perempuan kelas 2 SMA yang sudah diberikan cobaan berupa penyakit mematikan, disaat teman sebaya nya masih bisa menikmati masa-masa bermain dan belajar menuju jenjang pendidikan berikutnya. Anak kecil ini tidak tau apa-apa, bahkan dalam kelahirannya, kalau dia bisa meminta, untuk tidak dilahirkan dan diberikan penurunan penyakit mematikan.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yg seperti itu, yang diberikan cobaan dengan penyakit seperti itu. Saya juga tidak sanggup membayangkan, seandainya saya adalah orang tua dari anak tersebut, apa yang saya harus lakukan.

Bagaimana dengan kita, mengapa kita yang diberikan organ lengkap, tidak kurang satu apa pun, sehat wal'afiat, namun masih sempat untuk menyakiti orang lain, masih sempat angkuh, berkelahi, mencaci dll.

Dia yang masih kecil, dengan penyakit yang tinggal menunggu waktu merenggut hidup nya, Tidak pernah terbersit di fikirannya untuk menyakiti orang lain apalagi sombong, yang dia inginkan hanya kasih sayang Allah swt yang mau memberikannya waktu sedikit lagi untuk dia membalas budi kepada orang tua yang telah mengasuhnya dan sabar selalu disampingnya, walaupun dia tau dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas semua itu.

Semoga dengan berlajar dari kehidupan orang lain, kita bisa introspeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, Amiin. .




Empati & Waktu yang akan menjawabnya

Entah mengapa saya tertarik untuk menulis lebih dalam mengenai sikap manusia ini; Empati. Memang beberapa hari ini saya cendrung bertemu orang-orang yang empatinya kurang sampai dengan yang minus. Mereka teman kerja saya, orang dijalan sampai dengan partner, mereka tekanan nya besar, namun tidak pernah diimbangi dengan empati yang besar pula. Sering saya rasakan dan saya resapi, terlebih sering saya yg menjadi sasarannya.

Empati bukanlah sikap 'butuh kasihan' atau 'pengemis kasihsayang'. Empati adalah rasa dari lubuk seorang manusia, titipan Allah swt, untuk merasakah prihatin dan ikut merasakan apa yg tengah dirasakan org lain. Terkadang manusia sering cepat angkuhnya, sering cepat sombongnya, jangankan untuk merasa, untuk memikirkan yang sepantasnya saja tidak mau. Melakukan empati tidak perlu uang! yang anda butuhkan cuma waktu, waktu yang anda sisihkan untuk merasakan apa yang org lain sedang rasakan, kesusahannya, kesedihannya, kebingungannya, kepanikannya, dsb. Terkadang manusia ini terlalu banyak mikir dan neko-neko, saking banyaknya ulahnya, makin lupa yang mana yang harus dilakukan dan yang tdk harus dilakukan.

Akhir-akhir ini saya sering mengagumi sosok manusia-manusia kiriman Allah swt yang sangat hebat, manusia-manusia itu adalah orang-orang yang tidak mengeluh membantu rekan nya tidak hanya materi, namun juga non-materi. Mengapa saya katakan hebat? karena mereka bisa mengesampingkan kepentingan pribadi mereka terhadap kepentingan org lain, apalagi pada saat genting atau terdesak. Adakalanya hidup ini bukan untuk diri sendiri, memberi waktu untuk sekedar berempati tidaklah mengurangi apapun yang kita miliki, namun itulah yang susah untuk dilakukan. Tapi bukankah pahala itu bagi siapa yang benar-benar tulus melakukan, walaupun hanya dengan sebiji kurma :)

Banyak jenis manusia di dunia ini, mungkin jenis nya sudah menyamai dengan jenis setan (maaf-). Mengapa sedemikian itu, karena mungkin juga sudah akhir zaman, jujur saya merinding. Hanya kuasa-Nya lah yang bisa menggiring dirimu lebih baik, jadilah manusia yang beriman sedalam-dalamnya. Saya merindukan manusia-manusia yang berempati, yang mudah untuk mengalihkan tangannya untuk merangkul tetangga nya, yang menanyakan dan menghibur saudara nya. Semoga makin banyak manusia yang dapat berempati, itu Doa saya !

jadi manusia itu harus punya rasa empati, tau kapan melihat keatas kapan melihat kebawah, karena kalau tidak karma itu akan dekat




Minggu, 18 Agustus 2013

Bagi yang pernah Hidup, dan menjalani Hidup ini

Di dunia ini ada suatu fenomena yang sangat menarik, yang disebut KEHIDUPAN. menariknya kehidupan adalah salah satu proses inti yang harus dijalani manusia selama mereka masih diberikan nyawa oleh Allah swt. kehidupan manusia satu dengan yang lainnya tidak sama, ada yang BAHAGIA dan ada yang MENDERITA.

Disini manusia ditantang untuk menjadikan dirinya sebagai aktor sekaligus sutradara yang menjalani sendiri ceritanya, men-design sendiri alur nya untuk dijadikan akhir cerita yang BAHAGIA atau MERANA. Yang bertahan dari benturan PAHIT nya kehidupan akan tetap BERTAHAN, sedangkan yang MENYERAH sebelum berperang akan MATI. Persis dengan teori Darwin yang menyatakan bahwa seluruh ekosistem yang ada di dunia ini dan yang ada pada saat ini mengalami suatu proses yang disebut SELEKSI ALAM.

Oleh karena itu, sebagai makhluk yang diberikan anugrah oleh Allah swt, untuk dapat menjadi khalifah dimuka bumi ini, dengan dapat menjadi banyak peran, dan tentunya menjadi manusia yang BERGUNA bagi sesamanya, maka Bagi yang pernah Hidup, dan menjalani Hidup ini HIDUP DAN TERUSLAH HIDUP DALAM HIDUP ini.